“He who fights with monsters should be careful lest he thereby become a monster. And if thou gaze long into an abyss, the abyss will also gaze into thee.”

~Friedrich Nietzsche

Masa smk

                              Now, i school in SMK putera Indonesia at Barito 5 Street. in my class, 
X B class I really fun with this class.
Many memorial in there.
 chek it out



Masa SMP


     Bersama Kawan-kawan selesai 
ultah Louvina Gita Soya.
       my friend from 9a + 9b class

                The generation 2010 of IX A With Genk Koplak.














Me and My jo a hae


Peluh Kesah Hidupku

                           Namaku siti chotimah, nama cho diambil dari marga ayahku Chozin,
aku terlahir Kembar dengan bobot 1kg 1 ons, 
sedangkan kakakku 1kg 4ons.
              ibundaku melahirkan 2 anak kembar yang mungil dan cantik.
aku dilahirkan pada tanggal 10 oktober 1995 jam 2 tepat.
Di daerah Malang kota yang tercinta.

                Aku berterima kasih kepada orang tua ku terutama ibundaku,
yang senantiasa maerawatku dan menjagaku.



kemeriahan Barito Vaganza



Cerpen


             
Makna Hidup


          Bel panjang dua kali itu menandakan pelajaran telah usai,
        sudah terdengar sejak tadi. Ata yang sudah tak sabar menunggu 
kawannya Aditya keluar dari kelasnya. Maklumlah hari itu mereka
janjian dengan adik kelas mereka di kelas sepuluh yang 
bergabungdalam tim Basket SMK mereka, 
yaitu SMK Putera Indonesia.
Ata yang sedari tadi hanya menggerutu menunggu Adit,
terpaksa harus menyusul ke kelas Adit untuk memastikan
 apakahAdit jadi atau tidak. 
 “Duh, gila kemana juga sih nih anak, di sms ga dibales juga,
udah gitu gue juga yang harus nyamperin tuh anak 
mana kelasnya di lantai tiga pula.
” Sesampainya di lantai tiga dari balik kaca jendela 
Ata melihat Adit sedang sibuk dengan bangkunya.

“Hei Dit! Kok lama sih elo? 
Lumutan nih gue nungguin elo,
Ngapain sih elo?”

Berondongan pertanyaan Ata 
tak segera membuat Adit keluar 
dari kelasnya.

“Bentar, habis ini juga dah selesai kok”
 Adit menjawab sambil 
mengeluarkan selembar kain dari dalam kantong tasnya. 
Saputangan, lap, pel atau apalah yang dipakai 
Adit untuk mengelap
bangkunya. Setelah dikebut-kebutkan saputangan
 itu diselipkan lagi 
kedalam kantong tas sebelah luar.
Sambil tersenyum puas, 
dia keluar kelas menghampiri Ata yang masih 
terbengong-bengong melihat apa yang dilakukannya.

“Ayo Ata, kok elo bengong aja sih.‍ 
Ajak Adit sambil merangkul pundaksahabatnya. 
Dengan ragu-ragu Ata bertanya kepada sahabatnya 
             “Elo, kok ngelakuin kayak gitu setiap pulang sekolah,
 Dit? Kok kayak cewek banget gitu! 
                Adit yang selama ini dikenal paling jago 
olah raga dan paling pintar dikelasnya 
mau-maunya bersihin bangku dikelasnya, 
yang cewek aja belum tentu 
serajin gitu, eh ini yang cowok malah ngerjai begituan.

Sambil berjalan Adit menjawab pertanyaan Ata, 
“Gue nggak mengelap bangku gue doang kok, 
tapi juga ngerpihin 
bangku-bangku lainnya dan buangin sampah-sampah 
yang berserakan. 
Apalagi kan gue nggak selalu duduk disini,
 setiap hari kan selalu moving,
 jadi gue nggak tahu siapa yang jorok. 
Sepertinya nggak perlu juga nyari tahu karena 
tiap pulang sekolah, 
gue bakalan bersihin bangku yang gue
 dudukin hari ini.
Cuma itu yang bisa gue lakuin ke bangku itu 
sebagai bentuk terima kasih. 

Dia sudah menemani  dan memberikanku
 kenyamanan disaat pelajaran.
 Dia juga yang udah bantu gue konsentrasi 
hari ini, mungkin 
dia juga yang nanti akan menemani gue 
ngerjain soal-soal ujian 
sehingga gue lulus nanti, insyaalah.

Jadi gue harus memperhatikannya sebagai
 balasan kepadanya 
walaupun ia Cuma bangku,
 benda mati yang nggak bisa komunikasi.
Itulah yang selalu diajarin orangtua gue 
waktu gue di bangku sekolah dasar.
Mendengar jawaban itu, 
Ata hanya manggut-manggut. 
Ia begitu terkessan akan pelajaran hidup
 yang baru saja diterimanya. 
Mengungkapkan rasa terima kasih ternyata 
tidak hanya terbatas 
sesama manusia yang sudah berbuat baik
 pada kita, tetapi juga 
dapat kita berikan pada benda yang mati, 
karena secara tidak langsung
 benda itu telah berjasa kepada kita.
Ungakapan terima kasih tidak hanya 
dalam bentuk ucapan tetapi juga perbuatan.
Seorang sopir mikrolet saja akan 
membersihkan jok penumpang dan lantai 
kendaraannya sebelum berangkat dan berharap
 mendapat rezeki penumpang.
 Pedagang soto, bakso, dan mie yang 
mangkal di pinggir jalan juga
 akan selalu menyapu sekitar lapak jualannya 
sebeelum dan sesudah berjualan.
 Seorang pelajar yang bertanggung jawab terhadap 
dirinya, juga akan melakukan
 hal yang sama, yaitu ikut menjaga dan merawat 
sarana dan prasarana sekolah.
 Dengan demikian hidup akan jauh lebih bermakna.




Cintaku pada bunga kamboja



   
Ama terlahir tidak untuk meminta.
Bibirnya selalu tersenyum.
Tapi matanya berkaca-kaca.
Pikirannya yang gelisah
tak pernah henti bertanya.
  Adakah hidup adalah bunga Kamboja?
Tumbuh suci dalam sepi,
menghias kematian yang datang menghampiri.
Ia tak mengerti,
mengapa hanya kesunyian yang setia menemani.
Ia bertanya
 tapi ayahnya begitu tenggelam di antara
untaian doa dan buku-buku tua.
          Ia bertanya, tapi ibunya terlampau letih di tengah
ladang yang kerontang,
menanam setiap harapan untuknya.
        Tinggallah Ama yang bermain sendiri,
  merangkai manik-manik air mata
    yang berderai lepas di pangkuannya.
Dan di antara batu-batu nisan,
 pohon bunga Kamboja itulah yang
senantiasa mendekap
dan mengusap-usapnya mesra.


"Kenapa orang mati tak bisa bicara?"
si Ama kecil bertanya.
"Supaya mereka tidak perlu bertengkar berebut sorga,
                    " sang Kamboja menghapus butiran tangis
 yang meleleh dikedua pipinya.
"Kapan bulan akan mengunjungi kita?"
"Kelak, kalau kamu sudah tumbuh jadi gadis dewasa."
"Tapi, aku takut pada kenangan."
Pohon Kamboja meluruhkan lagi beberapa
kuntum bungadi atas kepalanya.
Kini Ama pun tersenyum,
 menyematkansalah satu di antara jepit rambutnya.
"Lihat, kamu secantik senja."
Ama tersipu, merona.
     "Kenangan hanyalah bayangan.
 Ia hadir untuk mempertegassumber cahaya.
Kamu tidak perlu takut.
Kegelapanlah yang selalu mengintai dan
hendak menerkam kita tiba-tiba."
                Si Ama menelungkupkan wajahnya dalam
pelukan sang Kamboja.
              "Nah, hari sudah mulai petang. Sekarang,
pulanglah kamu, Ama.
               Kudengar doa-doa ayahmu mulai merayapi udara.
 Dari ladang,
           ibumu pun tentu segera tiba. Jangan khawatir,
 nanti akan
               kukirim setangkai bunga Kamboja yang
berkelopak jingga.""Betul?"
             "Ya, akan kukirim untukmu,
bersama seorang pangeran
          sangat tampan yang selalu berkelana menaiki kuda."
"Betulkah?"
"Ya, dalam mimpi."
  Ama bergegas menuruni lereng,
mengikut bayangan sendiri
           yang melompat ringan di atas rumputan dan batuan.
Capung dan kelelawar bersilewatan,
                    membekaskan sapuan-sapuan temaram di atas
cakrawalayang melintang remang.
Menuju suatu arah, seekor burung
 terbang menepi.
         Kepak dan cericitannya yang resah melecut sepi,
              mengiris langit di ataspala Ama yang
melengkung sunyi.Sepertiku,
mungkin ia juga bertanya
    mengapa malam selalu datang begini tergesa,
membuat hati cemas dan pikiran rawan,
batin Ama sembari mempercepat langkah kakinya.


           Jika hidup adalah bentangan cerita,
bagi Ama tak adayang lebih membahagiakan
selain mempercakapkannya
denganbunga Kamboja.
    Setiap ia terpana oleh pendaran warna baju-baju
            temannya yang baru dibeli dari kota,
oleh kisah-kisah megah perjalanan mereka,
juga mainan ajaib aneka rupa yang
   takkan pernah dimilikinya,
  begitu saja ia menghambur sedih ke dalam
dekapan sang Kamboja.
                     Darinya ia pun segera mendengar segala dongeng
purba tentangkehilangan dan luka
yang penuh makna.
Tentang petaka, tentang penantian,
     tentang risau, juga harapan yang takkan sia-sia.
Berkat kesabaraan
  bunga Kamboja, Ama lancar pula melantunkan
requiem-requiem dan serenada
        yang kini selalu disenandungkannya perlahan
 setiap malam sebelum ia terlena.
 Agar, lewat mimpi, sahabatnya itu
tak sampai lupa mengiriminya
setangkai bunga Kamboja berkelopak jingga
 yang diantar sang pangeran berkuda.


Suatu hari, selagi ia asyik bercerita pada
             bunga Kamboja tentang permusuhan
ular dan burung angsa,
ibunya datang menyergapnya
 dengan berlinang air mata.
Di belakangnya,
ia lihat orang-orang bergerombolan,
 berdiri membeku.
Diam seperti batang-batang
pohon pisang yang ditanam
 tanpa rencana.
Setiap kepala tertunduk,
mengitari sebuah lubangyang menganga terbuka.
 Yang tentu telah digali oleh tangan-tangan
teramat perkasa,
 mungkin hingga dasar kedalaman.
Ia diberi tahu bahwa yang ada
di dalam tandu itu adalah ayahnya
yang telah menyempurnakansegala doa
 dari segenap buku-buku tua.
Ia menurut saja,
ketika ibunya memapahnya
 untuk memberi salam terakhir kali pada tandu
yang mengusung ayahnya itu.
 Sebenarnya, ingin ia berjingkrak kegirangan ketika
melihat tandu ayahnya
 juga dihias bunga-bunga Kamboja aneka warna.
Tapi, seseorang segera
menarik tangan kecilnya menjauh sementara
tandu itumulai diturunkan dari
pundak para pemanggulnya.
Ia bertanya,
tapi semua orang segera merapat
mendekati lubang.
Ama pun tidak bisa melihat apa-apa
selain tanah yang hitam,
kaki-kaki yang hitam,
tatapan mata yang menghindar dan kelam.
 Didengarnya
 kemudian mulut-mulut mereka bergumam
menggeremang,
menggemakan suara kengerian yang merendap,
yang mendesak keluar dari balik setiap dada.


"Apakah ayah masih akan tetap mendoakanku
dari dasar lubang itu sepanjang malam?"
Ama bertanya hampir putus asa.
"Tentu, Ama.
Karena itu, kamu juga mesti berdoa untuknya,"
 ibunya mendekapnya teramat erat.


"Aku akan meminta kepada pohon Kamboja
supaya setiap malam
 ayah juga dikirimi bunga berkelopak jingga
 yang diantar olehseorang pangeran berkuda."
     Ibunya menangis, orang-orang menangis.
 Ama tertegun, dan ia pun menangis.


Tapi Ama tak sempat bersedih terlalu lama.
 Belaian bunga Kamboja
 yang setia telah membuatnya lupa tentang ayahnya.
Sementara ibunya
 memang tidak lagi berurai air mata,
tapi lidahnya tak pernah pula
 tersentuh kata. Kesunyian begitu penuh mengisi
segenap sudut rumah Ama,
 menyesap setiap makna semata ke dalam dirinya.
  Beruntunglah bunga Kamboja tak pernah kehabisan cerita.
             Dan itulah mengapa Ama segera menghambur ke tengah
kuburan menemui sahabatnya begitu matahari pagi
membangunkannya.
Ia hanya pulang ketika hari petang,
saat sang pangeran
 berkuda yang mengantar bunga Kamboja berkelopak
 jinggasebentar lagi tiba dalam mimpinya.


Telah disusunnya setiap tangkai bunga yang selama ini
diterimanya menjadi sebentuk karangan.
Ia akan mengalungkannya
 pada sang pangeran saat pengelana berkuda itu kelak datang
membawakan bulan yang dipetik khusus untuknya.
 Setiap kali bertemu,ingin sekali Ama bertanya tentang
 negeri asal pangeran nun jauh di sana.
 Tentang danau saljunya yang berwarna putih selaka.
Tentang rusa-rusa betina yang sehalus sutra bulunya.
Tentang para peri yang selalu menari dan berdendang
mengikuti petikan harpa. Juga tentang anggur elona
yang membuat orang mati akan berdecak lidahnya.
Tapi fajar selalu lekas merekah dan membuatnya terkesima.
 Lalu, Ama pun akan dengan terpaksa kembali merawat
 rindunya.
 Kerinduan yang dari hari ke hari kian mekar indah
di balik dadanya.


"Ketahuilah, Ama. Sekarang kamu telah tumbuh
 menjadi gadis dewasa.
 Ibu telah semakin renta.
Seorang lelaki yang sentosa kini
datang meminangmu.
Kamu akan hidup bahagia bersamanya,"
 di bawah matahari kemarau yang berkilat-kilat
 membakar pikiran,
ibunya menyeruak dan merenggutnya
dari pelukan sang Kamboja.
Ama yang terkejut hampir-hampir tak lagi mengenali
 suara ibunya
setelah ia tak pernah mendengarnya entah
 untuk berapa lama.


  "Pulanglah, Ama.
 Ia datang sebagai wujud belas kasih para dewa.
 Demi duka yang menggantung sepanjang hayat
ayahmu,
demi sengsara yang menyelimuti
seluruh sejarah hidup ibumu,
    terimalah karunia tak terkira yang dibawanya
dengan hati gembira,"
       ibunya menarik paksa tangan Ama sebelum ia
sempat bertanya pada sang Kamboja.


"Tapi mengapa ia tak datang lewat mimpi? Tentu ia tak
membawakan aku bunga Kamboja berkelopak jingga.
Apalagi bulan yang purnama. Apakah mungkin ia adalah
 pangeranku yang selalu berkelana menaiki kuda?"


Tapi suara ibunya terlanjur lenyap untuk terakhir kalinya.
Tinggal sorot matanya yang lelah menerawang, tersaput
kesedihan yang tak hendak membersitkan isyarat maupun
 tanda apa-apa bagi pertanyaan Ama.


Ama memang terlahir tidak untuk meminta.
Ia pun berlutut diam di depan bukannya
seorang pangeran berkuda,
 melainkan burisrawa berbaju pedanda.
Ialah makhluk berkepala putih-kelabu yang hanya
tahu tuak dan bait-bait mantra.
Seorang lelaki yang tega
            begitu rupa menghalau seluruh khayal menakjubkan dari
kepala Ama.
Oleh sentakan tangan si burisrawa kini
 berguguranlah serta-merta setiap kelopak jingga
bunga Kamboja dari rangkaian
yang telah disusun Ama sekian lama.
Mata Ama kian berkaca-kaca.
Si burisrawa-pedanda
bukan cuma meminta,
ia menuntut segalanya.
 Ia hanya mau,
Ama selalu
tertawa ria, entah sembari menggendong pagi,
 menyunggi matahari,
dan terutama selama gelap menjelma.
Bagi Ama,
 siang kini adalah hamparan ara-ara membara
yang tak seorang pun pernah melihat tepiannya,
tanpa tempat bernaung meski sebentar untuknya.
 Malam adalah lorong-lorong gelap
 teramat panjang tanpa ada
kelip pelita yang sanggup menyala.
 Kian tertatih kaki Ama mencari,
kian tak tahu hendak ke mana ia pergi.
Sedang di belakang,
telah lama hilang jalan Ama untuk kembali.
 Seperti tangis bayi
di tengah senyap semesta,
lolong perih Ama menggelepar tanpa
pernah menyentuh telinga siapa pun juga.
Rintihannya berluruhan,
tersekap di balik lipatan-lipatan
hampa bahkan sebelum
sempat ia menjadi suara.


Setiap kali hendak bertanya,
 lidah Ama cuma menancap pada
ratusan mata pisau yang berkilap-kilap
tersepuh segala mantra
si burisrawa. Kucuran darahnya pekat mengalirkan
kesaksian,
betapa sebagai perempuan ternyata
ia adalah sekedar hiasan
 tentang kerapuhan dan santapan bagi k
etakutan yang terus
dipelihara atas nama dunia.
Dan Ama pun mengerti,
betapa laki-lakisebenarnya sama sekali
bukanlah pahlawan perkasa.
Melainkan,makhluk yang selalu cemas
pada kekalahan
dengan kepala penuh berjejal prasangka.
Ia pun tahu, mengapa si burisrawa sangat
membenci bulan.
 Karena segala tabiat jahat yang
disembunyikan di balik
jubah pedandanya akan tersingkap sebulatnya
saat cahaya purnama.
 Tapi, tentu saja, yang paling dibenci
oleh si burisrawa dari
segalanya adalah pertanyaan-pertanyaan Ama.
Setelah entah berapa lama tak lagi
bisa bercengkerama dengan
 bunga-bunga Kamboja,
Ama merasa betapa dirinya kini begitu tua.
 Tubuhnya mengering bertabur luka,
jiwanya mengelupas lara.
Di balik dadanya terperam beribu-ribu jarum
berbisa yang betapa perih terus menusuki
segenap relung batinnya.
Tapi, seperti dulu juga,
bibir Ama selalu tersenyum.
 Memang ia teramat letih,
tapi pikirannya tak hendak berhenti bertanya.
Setiap malam,
selagi si burisrawa terlelap dalam dengkur,
 diam-diam kembalidisenandungkannya
requiem-requiem dan serenada
bunga Kamboja,
 satu-satunya hiburan yang masih tersisa.
     Ya, bibir Ama masih selalu tersenyum.
Karena, dengan penuh seksama
 ia sebenarnya telah menata sebuah rencana mulia.
 Suatu pagi, ia akan
 meracun si burisrawa yang segera melahap
segala yang disodorkan
 kepadanya tanpa membuka mata.
Bangkainya yang berwarna biru
toska akan dibaringkannya hati-hati dekat jasad ibunya.
Perempuan yang menderita itu telah lebih dulu
diselamatkannya
 dari nestapa tak terperiyang kian menyiksa.
 Pisau dalam genggaman tangan Ama
telah berkelebat melintasi
puncak keheningan pada malam sebelumnya,
 lalu tepat menghunjam jantung ibunya
dengan sebuah liukan
yang teramat mempesona.
Tanpa pekik kesakitan,
 tanpa tangis penyesalan.
Juga tanpa doa-doa
usang dari buku-buku tua.
Hanya mata Ama yang masih terpejam
 entah untuk berapa lama,
meresapi sisa kenikmatan semburan d
arah yang tadi begitu hangat
 mengusap wajahnya.
Itulah juga belaian lembut
 jemari ibunya yang sangat didamba,
yang dulu selalu menenteramkan tangis Ama
selagi ia masih seorang anak manusia
yang belum mengenal apa-apa.
Esoknya Ama akan datang untuk
 mengucapkan terima kasih
yang tak terhingga kepada sang Kamboja,
sahabatnya, yang telah mengajari
 bagaimana menghapus rasa takut pada kenangan.
Dan bahwa orang mati tak perlu bertengkar
memperebutkan sorga.
Akan dimintanya sekuntum lagi bunga yang
berkelopak jingga, sebagai cinderamata.
Lalu, hendak ditunggunya sang pangeran
di depan garis cakrawala,
saat malam datang menggantikan senja.
 Ama yang telah sempurna berhias koyak-moyak
 luka hendak memberikan ciuman perpisahan untuk
pangerannya yang selalu berkelana menaiki kuda.
Kini Ama ingin pergi ke mana saja,
mengembara hingga ke ujung-ujung dunia.
Sendiri, tanpa sang pangeran,
tanpa siapa-siapa.
 Kecuali sekuntum
 bunga Kamboja yang tersemat
sunyi di dadanya.
Bergerak perlahan,
Ama pun mengendarai angan,
di bawah putih cahaya bulan.





Cari Blog Ini