Search
Blog Archive
Followers
About Me
- DdangCho
- Malang, jawa timur, Indonesia
- i'm beautiful girl, has many talented.
SlideShow
Mixpod
Pages
Masa smk
Now, i school in SMK putera Indonesia at Barito 5 Street. in my class,
X B class I really fun with this class.
Many memorial in there.
chek it out
Posted by DdangCho at 00.58 | 0 comments
Masa SMP
Bersama Kawan-kawan selesai
ultah Louvina Gita Soya.
ultah Louvina Gita Soya.
my friend from 9a + 9b class
The generation 2010 of IX A With Genk Koplak.
Posted by DdangCho at 00.58 | 0 comments
Peluh Kesah Hidupku
Namaku siti chotimah, nama cho diambil dari marga ayahku Chozin,
aku terlahir Kembar dengan bobot 1kg 1 ons,
sedangkan kakakku 1kg 4ons.
ibundaku melahirkan 2 anak kembar yang mungil dan cantik.
aku dilahirkan pada tanggal 10 oktober 1995 jam 2 tepat.
Di daerah Malang kota yang tercinta.
Aku berterima kasih kepada orang tua ku terutama ibundaku,
yang senantiasa maerawatku dan menjagaku.
Posted by DdangCho at 07.09 | 0 comments
Cerpen
Makna Hidup
Bel panjang dua kali itu menandakan pelajaran telah usai,
sudah terdengar sejak tadi. Ata yang sudah tak sabar menunggu
kawannya Aditya keluar dari kelasnya. Maklumlah hari itu mereka
janjian dengan adik kelas mereka di kelas sepuluh yang
bergabungdalam tim Basket SMK mereka,
yaitu SMK Putera Indonesia.
Ata yang sedari tadi hanya menggerutu menunggu Adit,
terpaksa harus menyusul ke kelas Adit untuk memastikan
apakahAdit jadi atau tidak.
“Duh, gila kemana juga sih nih anak, di sms ga dibales juga,
udah gitu gue juga yang harus nyamperin tuh anak
mana kelasnya di lantai tiga pula.
” Sesampainya di lantai tiga dari balik kaca jendela
Ata melihat Adit sedang sibuk dengan bangkunya.
sudah terdengar sejak tadi. Ata yang sudah tak sabar menunggu
kawannya Aditya keluar dari kelasnya. Maklumlah hari itu mereka
janjian dengan adik kelas mereka di kelas sepuluh yang
bergabungdalam tim Basket SMK mereka,
yaitu SMK Putera Indonesia.
Ata yang sedari tadi hanya menggerutu menunggu Adit,
terpaksa harus menyusul ke kelas Adit untuk memastikan
apakahAdit jadi atau tidak.
“Duh, gila kemana juga sih nih anak, di sms ga dibales juga,
udah gitu gue juga yang harus nyamperin tuh anak
mana kelasnya di lantai tiga pula.
” Sesampainya di lantai tiga dari balik kaca jendela
Ata melihat Adit sedang sibuk dengan bangkunya.
“Hei Dit! Kok lama sih elo?
Lumutan nih gue nungguin elo,
Ngapain sih elo?”
Lumutan nih gue nungguin elo,
Ngapain sih elo?”
Berondongan pertanyaan Ata
tak segera membuat Adit keluar
dari kelasnya.
tak segera membuat Adit keluar
dari kelasnya.
“Bentar, habis ini juga dah selesai kok”
Adit menjawab sambil
mengeluarkan selembar kain dari dalam kantong tasnya.
Adit menjawab sambil
mengeluarkan selembar kain dari dalam kantong tasnya.
Saputangan, lap, pel atau apalah yang dipakai
Adit untuk mengelap
bangkunya. Setelah dikebut-kebutkan saputangan
itu diselipkan lagi
kedalam kantong tas sebelah luar.
Adit untuk mengelap
bangkunya. Setelah dikebut-kebutkan saputangan
itu diselipkan lagi
kedalam kantong tas sebelah luar.
Sambil tersenyum puas,
dia keluar kelas menghampiri Ata yang masih
terbengong-bengong melihat apa yang dilakukannya.
dia keluar kelas menghampiri Ata yang masih
terbengong-bengong melihat apa yang dilakukannya.
“Ayo Ata, kok elo bengong aja sih.
Ajak Adit sambil merangkul pundaksahabatnya.
Dengan ragu-ragu Ata bertanya kepada sahabatnya
“Elo, kok ngelakuin kayak gitu setiap pulang sekolah,
Dit? Kok kayak cewek banget gitu!
Ajak Adit sambil merangkul pundaksahabatnya.
Dengan ragu-ragu Ata bertanya kepada sahabatnya
“Elo, kok ngelakuin kayak gitu setiap pulang sekolah,
Dit? Kok kayak cewek banget gitu!
Adit yang selama ini dikenal paling jago
olah raga dan paling pintar dikelasnya
mau-maunya bersihin bangku dikelasnya,
yang cewek aja belum tentu
serajin gitu, eh ini yang cowok malah ngerjai begituan.
olah raga dan paling pintar dikelasnya
mau-maunya bersihin bangku dikelasnya,
yang cewek aja belum tentu
serajin gitu, eh ini yang cowok malah ngerjai begituan.
Sambil berjalan Adit menjawab pertanyaan Ata,
“Gue nggak mengelap bangku gue doang kok,
tapi juga ngerpihin
bangku-bangku lainnya dan buangin sampah-sampah
yang berserakan.
Apalagi kan gue nggak selalu duduk disini,
setiap hari kan selalu moving,
jadi gue nggak tahu siapa yang jorok.
tapi juga ngerpihin
bangku-bangku lainnya dan buangin sampah-sampah
yang berserakan.
Apalagi kan gue nggak selalu duduk disini,
setiap hari kan selalu moving,
jadi gue nggak tahu siapa yang jorok.
Sepertinya nggak perlu juga nyari tahu karena
tiap pulang sekolah,
gue bakalan bersihin bangku yang gue
dudukin hari ini.
tiap pulang sekolah,
gue bakalan bersihin bangku yang gue
dudukin hari ini.
Cuma itu yang bisa gue lakuin ke bangku itu
sebagai bentuk terima kasih.
sebagai bentuk terima kasih.
Dia sudah menemani dan memberikanku
kenyamanan disaat pelajaran.
Dia juga yang udah bantu gue konsentrasi
hari ini, mungkin
dia juga yang nanti akan menemani gue
ngerjain soal-soal ujian
sehingga gue lulus nanti, insyaalah.
kenyamanan disaat pelajaran.
Dia juga yang udah bantu gue konsentrasi
hari ini, mungkin
dia juga yang nanti akan menemani gue
ngerjain soal-soal ujian
sehingga gue lulus nanti, insyaalah.
Jadi gue harus memperhatikannya sebagai
balasan kepadanya
walaupun ia Cuma bangku,
benda mati yang nggak bisa komunikasi.
balasan kepadanya
walaupun ia Cuma bangku,
benda mati yang nggak bisa komunikasi.
Itulah yang selalu diajarin orangtua gue
waktu gue di bangku sekolah dasar.
waktu gue di bangku sekolah dasar.
Mendengar jawaban itu,
Ata hanya manggut-manggut.
Ata hanya manggut-manggut.
Ia begitu terkessan akan pelajaran hidup
yang baru saja diterimanya.
Mengungkapkan rasa terima kasih ternyata
tidak hanya terbatas
sesama manusia yang sudah berbuat baik
pada kita, tetapi juga
dapat kita berikan pada benda yang mati,
karena secara tidak langsung
benda itu telah berjasa kepada kita.
yang baru saja diterimanya.
Mengungkapkan rasa terima kasih ternyata
tidak hanya terbatas
sesama manusia yang sudah berbuat baik
pada kita, tetapi juga
dapat kita berikan pada benda yang mati,
karena secara tidak langsung
benda itu telah berjasa kepada kita.
Ungakapan terima kasih tidak hanya
dalam bentuk ucapan tetapi juga perbuatan.
dalam bentuk ucapan tetapi juga perbuatan.
Seorang sopir mikrolet saja akan
membersihkan jok penumpang dan lantai
kendaraannya sebelum berangkat dan berharap
mendapat rezeki penumpang.
Pedagang soto, bakso, dan mie yang
mangkal di pinggir jalan juga
akan selalu menyapu sekitar lapak jualannya
sebeelum dan sesudah berjualan.
Seorang pelajar yang bertanggung jawab terhadap
dirinya, juga akan melakukan
hal yang sama, yaitu ikut menjaga dan merawat
sarana dan prasarana sekolah.
Dengan demikian hidup akan jauh lebih bermakna.
membersihkan jok penumpang dan lantai
kendaraannya sebelum berangkat dan berharap
mendapat rezeki penumpang.
Pedagang soto, bakso, dan mie yang
mangkal di pinggir jalan juga
akan selalu menyapu sekitar lapak jualannya
sebeelum dan sesudah berjualan.
Seorang pelajar yang bertanggung jawab terhadap
dirinya, juga akan melakukan
hal yang sama, yaitu ikut menjaga dan merawat
sarana dan prasarana sekolah.
Dengan demikian hidup akan jauh lebih bermakna.
Cintaku pada bunga kamboja
Ama terlahir tidak untuk meminta.
Bibirnya selalu tersenyum.
Tapi matanya berkaca-kaca.
Pikirannya yang gelisah
tak pernah henti bertanya.
Adakah hidup adalah bunga Kamboja?
Tumbuh suci dalam sepi,
menghias kematian yang datang menghampiri.
Ia tak mengerti,
mengapa hanya kesunyian yang setia menemani.
Ia bertanya
tapi ayahnya begitu tenggelam di antara
untaian doa dan buku-buku tua.
Ia bertanya, tapi ibunya terlampau letih di tengah
ladang yang kerontang,
menanam setiap harapan untuknya.
Tinggallah Ama yang bermain sendiri,
merangkai manik-manik air mata
yang berderai lepas di pangkuannya.
Dan di antara batu-batu nisan,
pohon bunga Kamboja itulah yang
senantiasa mendekap
dan mengusap-usapnya mesra.
"Kenapa orang mati tak bisa bicara?"
si Ama kecil bertanya.
"Supaya mereka tidak perlu bertengkar berebut sorga,
" sang Kamboja menghapus butiran tangis
yang meleleh dikedua pipinya.
"Kapan bulan akan mengunjungi kita?"
"Kelak, kalau kamu sudah tumbuh jadi gadis dewasa."
"Tapi, aku takut pada kenangan."
Pohon Kamboja meluruhkan lagi beberapa
kuntum bungadi atas kepalanya.
Kini Ama pun tersenyum,
menyematkansalah satu di antara jepit rambutnya.
"Lihat, kamu secantik senja."
Ama tersipu, merona.
"Kenangan hanyalah bayangan.
Ia hadir untuk mempertegassumber cahaya.
Kamu tidak perlu takut.
Kegelapanlah yang selalu mengintai dan
hendak menerkam kita tiba-tiba."
Si Ama menelungkupkan wajahnya dalam
pelukan sang Kamboja.
"Nah, hari sudah mulai petang. Sekarang,
pulanglah kamu, Ama.
Kudengar doa-doa ayahmu mulai merayapi udara.
Dari ladang,
ibumu pun tentu segera tiba. Jangan khawatir,
nanti akan
kukirim setangkai bunga Kamboja yang
berkelopak jingga.""Betul?"
"Ya, akan kukirim untukmu,
bersama seorang pangeran
sangat tampan yang selalu berkelana menaiki kuda."
"Betulkah?"
"Ya, dalam mimpi."
Ama bergegas menuruni lereng,
mengikut bayangan sendiri
yang melompat ringan di atas rumputan dan batuan.
Capung dan kelelawar bersilewatan,
membekaskan sapuan-sapuan temaram di atas
cakrawalayang melintang remang.
Menuju suatu arah, seekor burung
terbang menepi.
Kepak dan cericitannya yang resah melecut sepi,
mengiris langit di ataspala Ama yang
melengkung sunyi.Sepertiku,
mungkin ia juga bertanya
mengapa malam selalu datang begini tergesa,
membuat hati cemas dan pikiran rawan,
batin Ama sembari mempercepat langkah kakinya.
Jika hidup adalah bentangan cerita,
bagi Ama tak adayang lebih membahagiakan
selain mempercakapkannya
denganbunga Kamboja.
Setiap ia terpana oleh pendaran warna baju-baju
temannya yang baru dibeli dari kota,
oleh kisah-kisah megah perjalanan mereka,
juga mainan ajaib aneka rupa yang
takkan pernah dimilikinya,
begitu saja ia menghambur sedih ke dalam
dekapan sang Kamboja.
Darinya ia pun segera mendengar segala dongeng
purba tentangkehilangan dan luka
yang penuh makna.
Tentang petaka, tentang penantian,
tentang risau, juga harapan yang takkan sia-sia.
Berkat kesabaraan
bunga Kamboja, Ama lancar pula melantunkan
requiem-requiem dan serenada
yang kini selalu disenandungkannya perlahan
setiap malam sebelum ia terlena.
Agar, lewat mimpi, sahabatnya itu
tak sampai lupa mengiriminya
setangkai bunga Kamboja berkelopak jingga
yang diantar sang pangeran berkuda.
Suatu hari, selagi ia asyik bercerita pada
bunga Kamboja tentang permusuhan
ular dan burung angsa,
ibunya datang menyergapnya
dengan berlinang air mata.
Di belakangnya,
ia lihat orang-orang bergerombolan,
berdiri membeku.
Diam seperti batang-batang
pohon pisang yang ditanam
tanpa rencana.
Setiap kepala tertunduk,
mengitari sebuah lubangyang menganga terbuka.
Yang tentu telah digali oleh tangan-tangan
teramat perkasa,
mungkin hingga dasar kedalaman.
Ia diberi tahu bahwa yang ada
di dalam tandu itu adalah ayahnya
yang telah menyempurnakansegala doa
dari segenap buku-buku tua.
Ia menurut saja,
ketika ibunya memapahnya
untuk memberi salam terakhir kali pada tandu
yang mengusung ayahnya itu.
Sebenarnya, ingin ia berjingkrak kegirangan ketika
melihat tandu ayahnya
juga dihias bunga-bunga Kamboja aneka warna.
Tapi, seseorang segera
menarik tangan kecilnya menjauh sementara
tandu itumulai diturunkan dari
pundak para pemanggulnya.
Ia bertanya,
tapi semua orang segera merapat
mendekati lubang.
Ama pun tidak bisa melihat apa-apa
selain tanah yang hitam,
kaki-kaki yang hitam,
tatapan mata yang menghindar dan kelam.
Didengarnya
kemudian mulut-mulut mereka bergumam
menggeremang,
menggemakan suara kengerian yang merendap,
yang mendesak keluar dari balik setiap dada.
"Apakah ayah masih akan tetap mendoakanku
dari dasar lubang itu sepanjang malam?"
Ama bertanya hampir putus asa.
"Tentu, Ama.
Karena itu, kamu juga mesti berdoa untuknya,"
ibunya mendekapnya teramat erat.
"Aku akan meminta kepada pohon Kamboja
supaya setiap malam
ayah juga dikirimi bunga berkelopak jingga
yang diantar olehseorang pangeran berkuda."
Ibunya menangis, orang-orang menangis.
Ama tertegun, dan ia pun menangis.
Tapi Ama tak sempat bersedih terlalu lama.
Belaian bunga Kamboja
yang setia telah membuatnya lupa tentang ayahnya.
Sementara ibunya
memang tidak lagi berurai air mata,
tapi lidahnya tak pernah pula
tersentuh kata. Kesunyian begitu penuh mengisi
segenap sudut rumah Ama,
menyesap setiap makna semata ke dalam dirinya.
Beruntunglah bunga Kamboja tak pernah kehabisan cerita.
Dan itulah mengapa Ama segera menghambur ke tengah
kuburan menemui sahabatnya begitu matahari pagi
membangunkannya.
Ia hanya pulang ketika hari petang,
saat sang pangeran
berkuda yang mengantar bunga Kamboja berkelopak
jinggasebentar lagi tiba dalam mimpinya.
Telah disusunnya setiap tangkai bunga yang selama ini
diterimanya menjadi sebentuk karangan.
Ia akan mengalungkannya
pada sang pangeran saat pengelana berkuda itu kelak datang
membawakan bulan yang dipetik khusus untuknya.
Setiap kali bertemu,ingin sekali Ama bertanya tentang
negeri asal pangeran nun jauh di sana.
Tentang danau saljunya yang berwarna putih selaka.
Tentang rusa-rusa betina yang sehalus sutra bulunya.
Tentang para peri yang selalu menari dan berdendang
mengikuti petikan harpa. Juga tentang anggur elona
yang membuat orang mati akan berdecak lidahnya.
Tapi fajar selalu lekas merekah dan membuatnya terkesima.
Lalu, Ama pun akan dengan terpaksa kembali merawat
rindunya.
Kerinduan yang dari hari ke hari kian mekar indah
di balik dadanya.
"Ketahuilah, Ama. Sekarang kamu telah tumbuh
menjadi gadis dewasa.
Ibu telah semakin renta.
Seorang lelaki yang sentosa kini
datang meminangmu.
Kamu akan hidup bahagia bersamanya,"
di bawah matahari kemarau yang berkilat-kilat
membakar pikiran,
ibunya menyeruak dan merenggutnya
dari pelukan sang Kamboja.
Ama yang terkejut hampir-hampir tak lagi mengenali
suara ibunya
setelah ia tak pernah mendengarnya entah
untuk berapa lama.
"Pulanglah, Ama.
Ia datang sebagai wujud belas kasih para dewa.
Demi duka yang menggantung sepanjang hayat
ayahmu,
demi sengsara yang menyelimuti
seluruh sejarah hidup ibumu,
terimalah karunia tak terkira yang dibawanya
dengan hati gembira,"
ibunya menarik paksa tangan Ama sebelum ia
sempat bertanya pada sang Kamboja.
"Tapi mengapa ia tak datang lewat mimpi? Tentu ia tak
membawakan aku bunga Kamboja berkelopak jingga.
Apalagi bulan yang purnama. Apakah mungkin ia adalah
pangeranku yang selalu berkelana menaiki kuda?"
Tapi suara ibunya terlanjur lenyap untuk terakhir kalinya.
Tinggal sorot matanya yang lelah menerawang, tersaput
kesedihan yang tak hendak membersitkan isyarat maupun
tanda apa-apa bagi pertanyaan Ama.
Ama memang terlahir tidak untuk meminta.
Ia pun berlutut diam di depan bukannya
seorang pangeran berkuda,
melainkan burisrawa berbaju pedanda.
Ialah makhluk berkepala putih-kelabu yang hanya
tahu tuak dan bait-bait mantra.
Seorang lelaki yang tega
begitu rupa menghalau seluruh khayal menakjubkan dari
kepala Ama.
Oleh sentakan tangan si burisrawa kini
berguguranlah serta-merta setiap kelopak jingga
bunga Kamboja dari rangkaian
yang telah disusun Ama sekian lama.
Mata Ama kian berkaca-kaca.
Si burisrawa-pedanda
bukan cuma meminta,
ia menuntut segalanya.
Ia hanya mau,
Ama selalu
tertawa ria, entah sembari menggendong pagi,
menyunggi matahari,
dan terutama selama gelap menjelma.
Bagi Ama,
siang kini adalah hamparan ara-ara membara
yang tak seorang pun pernah melihat tepiannya,
tanpa tempat bernaung meski sebentar untuknya.
Malam adalah lorong-lorong gelap
teramat panjang tanpa ada
kelip pelita yang sanggup menyala.
Kian tertatih kaki Ama mencari,
kian tak tahu hendak ke mana ia pergi.
Sedang di belakang,
telah lama hilang jalan Ama untuk kembali.
Seperti tangis bayi
di tengah senyap semesta,
lolong perih Ama menggelepar tanpa
pernah menyentuh telinga siapa pun juga.
Rintihannya berluruhan,
tersekap di balik lipatan-lipatan
hampa bahkan sebelum
sempat ia menjadi suara.
Setiap kali hendak bertanya,
lidah Ama cuma menancap pada
ratusan mata pisau yang berkilap-kilap
tersepuh segala mantra
si burisrawa. Kucuran darahnya pekat mengalirkan
kesaksian,
betapa sebagai perempuan ternyata
ia adalah sekedar hiasan
tentang kerapuhan dan santapan bagi k
etakutan yang terus
dipelihara atas nama dunia.
Dan Ama pun mengerti,
betapa laki-lakisebenarnya sama sekali
bukanlah pahlawan perkasa.
Melainkan,makhluk yang selalu cemas
pada kekalahan
dengan kepala penuh berjejal prasangka.
Ia pun tahu, mengapa si burisrawa sangat
membenci bulan.
Karena segala tabiat jahat yang
disembunyikan di balik
jubah pedandanya akan tersingkap sebulatnya
saat cahaya purnama.
Tapi, tentu saja, yang paling dibenci
oleh si burisrawa dari
segalanya adalah pertanyaan-pertanyaan Ama.
Setelah entah berapa lama tak lagi
bisa bercengkerama dengan
bunga-bunga Kamboja,
Ama merasa betapa dirinya kini begitu tua.
Tubuhnya mengering bertabur luka,
jiwanya mengelupas lara.
Di balik dadanya terperam beribu-ribu jarum
berbisa yang betapa perih terus menusuki
segenap relung batinnya.
Tapi, seperti dulu juga,
bibir Ama selalu tersenyum.
Memang ia teramat letih,
tapi pikirannya tak hendak berhenti bertanya.
Setiap malam,
selagi si burisrawa terlelap dalam dengkur,
diam-diam kembalidisenandungkannya
requiem-requiem dan serenada
bunga Kamboja,
satu-satunya hiburan yang masih tersisa.
Ya, bibir Ama masih selalu tersenyum.
Karena, dengan penuh seksama
ia sebenarnya telah menata sebuah rencana mulia.
Suatu pagi, ia akan
meracun si burisrawa yang segera melahap
segala yang disodorkan
kepadanya tanpa membuka mata.
Bangkainya yang berwarna biru
toska akan dibaringkannya hati-hati dekat jasad ibunya.
Perempuan yang menderita itu telah lebih dulu
diselamatkannya
dari nestapa tak terperiyang kian menyiksa.
Pisau dalam genggaman tangan Ama
telah berkelebat melintasi
puncak keheningan pada malam sebelumnya,
lalu tepat menghunjam jantung ibunya
dengan sebuah liukan
yang teramat mempesona.
Tanpa pekik kesakitan,
tanpa tangis penyesalan.
Juga tanpa doa-doa
usang dari buku-buku tua.
Hanya mata Ama yang masih terpejam
entah untuk berapa lama,
meresapi sisa kenikmatan semburan d
arah yang tadi begitu hangat
mengusap wajahnya.
Itulah juga belaian lembut
jemari ibunya yang sangat didamba,
yang dulu selalu menenteramkan tangis Ama
selagi ia masih seorang anak manusia
yang belum mengenal apa-apa.
Esoknya Ama akan datang untuk
mengucapkan terima kasih
yang tak terhingga kepada sang Kamboja,
sahabatnya, yang telah mengajari
bagaimana menghapus rasa takut pada kenangan.
Dan bahwa orang mati tak perlu bertengkar
memperebutkan sorga.
Akan dimintanya sekuntum lagi bunga yang
berkelopak jingga, sebagai cinderamata.
Lalu, hendak ditunggunya sang pangeran
di depan garis cakrawala,
saat malam datang menggantikan senja.
Ama yang telah sempurna berhias koyak-moyak
luka hendak memberikan ciuman perpisahan untuk
pangerannya yang selalu berkelana menaiki kuda.
Kini Ama ingin pergi ke mana saja,
mengembara hingga ke ujung-ujung dunia.
Sendiri, tanpa sang pangeran,
tanpa siapa-siapa.
Kecuali sekuntum
bunga Kamboja yang tersemat
sunyi di dadanya.
Bergerak perlahan,
Ama pun mengendarai angan,
di bawah putih cahaya bulan.
Posted by DdangCho at 22.58 | 0 comments
Sahabat
Takkan pernahku temui lagi
Persahabatan seperti ini
Akankah abadi selayak harapanku
Meskipun aku sadar
Waktu pasti memisahkan kita
Entah
kapan kurajut benang emas
Yang menghiasi hati
Seindah kebersamaan
kita
Wahai sahabat....
Biarkan butiran embun itu
Membasahi sukma yang kering
Mengobati dahaga kerinduan
Kelak saat kita harus berpisah
Butiran embun itu akan hadir
Menyampaikan kabar di jiwa
Karena...
Rasa sakit hatiku
Lebih pedih dari seribu luka
Yang tergores dalam hatiku
Memohon Ampunanmu
Saat ku goreskan tinta diatas kertas
ingin ku tuanglkan semua rasa ini
karena aku tak sanggup menanggung
begitu berat ku rasa
Ya Rabbi
Dalam hati kecilku,
teringat akan keagunganmu
Mungkinkah hanya kemaksiatan
yang ku perbuat.
Ya ALLAH...
Berikan aku kekuatan
Kedewasaan
Untuk mengahadapi rintangan
Ya Rabbi...
Bukakanlah mata hatiku
Dan terimalah taubat nasuhaku
Pahlawanku
Terik sang surya
Tak pernah kau rasa
Terpaan sang bayu
Tak menjadi penghalang bagimu
Lelah, letih, takut
Tak pernah kau rasakan
Walau bahaya mengancammu
Cucuran darah bukanlah hal
Penting bagimu
Semangat juangmu
Selalu membara di hatiku
Terima kasih pahlawanku.
Posted by DdangCho at 00.19 | 0 comments
Langganan:
Postingan (Atom)








.jpg)
.jpg)










.jpg)



